Di era serbadigital seperti sekarang, gempuran informasi dan teknologi menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup kita. Setiap hari, mata dan pikiran kita disuguhi berbagai konten, mulai dari berita, hiburan, media sosial, hingga aplikasi penunjang produktivitas. Tanpa disadari, kemudahan akses ini juga membawa tantangan baru, terutama dalam menjaga kesehatan mental, spiritual, dan fisik kita. Di sinilah konsep “Digital Wellbeing” menjadi sangat relevan: sebuah upaya untuk menciptakan hubungan yang lebih sehat dan seimbang dengan teknologi.
Bagi seorang Muslim, konsep ini memiliki dimensi yang lebih dalam. Islam, sebagai agama yang sempurna, telah memberikan panduan komprehensif untuk setiap aspek kehidupan, termasuk bagaimana kita berinteraksi dengan dunia, baik yang nyata maupun maya. Digital wellbeing dalam Islam bukan hanya tentang membatasi penggunaan gawai, melainkan juga tentang bagaimana kita memanfaatkan teknologi agar tidak melalaikan kita dari tujuan hidup yang hakiki dan tetap menjaga hati, pikiran, serta produktivitas kita demi meraih ridha Allah SWT.
Pentingnya Digital Wellbeing dalam Islam
Dalam Islam, setiap nikmat yang diberikan Allah SWT harus disyukuri dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, termasuk nikmat teknologi. Namun, potensi bahaya dari penggunaan yang berlebihan atau salah juga harus diwaspadai. Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa moderat (wasathiyah) dalam segala hal, termasuk dalam berinteraksi dengan teknologi. Hidup yang seimbang antara urusan dunia dan akhirat adalah kuncinya.
Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Qasas ayat 77:
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi. Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Ayat ini mengingatkan kita untuk mencari kebahagiaan akhirat tanpa melupakan bagian kita di dunia. Teknologi, jika digunakan dengan bijak, bisa menjadi sarana untuk mencapai keduanya. Namun, jika digunakan secara berlebihan, ia bisa melalaikan kita dari ibadah, silaturahmi, dan tanggung jawab laiya.
Menjaga Pikiran dan Hati dari Gempuran Informasi
Dunia digital adalah lautan informasi. Baik dan buruk, benar dan salah, semuanya bercampur. Sebagai seorang Muslim, kita diajarkan untuk selektif dan kritis dalam menerima informasi. Hati adalah raja, dan pikiran adalah panglimanya. Keduanya harus dijaga agar tidak terkontaminasi oleh hal-hal yang merusak.
Allah SWT mengingatkan kita dalam Surat Al-Isra ayat 36:
Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabaya.
Ayat ini menegaskan bahwa setiap indra dan hati kita akan dimintai pertanggungjawaban. Ini berarti kita harus berhati-hati dalam memilih apa yang kita lihat, dengar, dan serap melalui dunia digital. Hindari berita bohong (hoax), konten yang provokatif, atau hal-hal yang tidak bermanfaat. Fokuslah pada konten yang mendidik, menginspirasi, dan mendekatkan kita kepada Allah SWT.
Baca juga ini : Pentingnya Pendidikan Agama dalam Keluarga
Meningkatkan Produktivitas dengan Pemanfaatan Teknologi Bijak
Teknologi sejatinya diciptakan untuk memudahkan hidup dan meningkatkan produktivitas. Seorang Muslim dianjurkan untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya karena waktu adalah pedang yang jika tidak digunakan akan menebas kita. Produktivitas dalam pandangan Islam bukan hanya tentang menyelesaikan pekerjaan duniawi, tetapi juga tentang bagaimana kita mengisi waktu dengan hal-hal yang bernilai ibadah.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia tertipu olehnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.
Hadis ini menegaskan betapa berharganya waktu luang. Teknologi bisa menjadi alat yang ampuh untuk manajemen waktu, belajar hal baru, atau bahkan berdakwah. Namun, jika kita terlalu banyak menghabiskan waktu untuk menggulir media sosial tanpa tujuan atau bermain gim secara berlebihan, maka kita telah menyia-nyiakan waktu berharga yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.
Terapkan aturan ketat untuk diri sendiri, misalnya, membatasi waktu penggunaan media sosial, menggunakan aplikasi produktivitas untuk mengatur jadwal, atau menjadikan gawai sebagai sarana untuk mendengarkan ceramah agama atau membaca Al-Qur’an.
Baca juga ini : Keutamaan Mencari Ilmu dalam Islam
Menciptakan Keseimbangan Dunia dan Akhirat
Pilar utama digital wellbeing dari perspektif Islam adalah menciptakan keseimbangan. Ini berarti tidak larut dalam hiruk pikuk dunia maya dan tidak pula mengabaikan kehidupayata serta kewajiban spiritual kita. Ketergantungan berlebihan pada gawai dan internet dapat membuat kita lupa akan pentingnya interaksi sosial, ibadah, dan refleksi diri.
Praktik nyata yang bisa diterapkan antara lain:
- Batasi Waktu Layar (Screen Time): Tentukan batas waktu harian untuk penggunaan gawai, terutama untuk aplikasi yang kurang produktif. Banyak perangkat kini memiliki fitur bawaan untuk membantu Anda melacak dan membatasi waktu layar.
- Zona Bebas Gawai (Gadget-Free Zones): Tetapkan area di rumah atau waktu tertentu (misalnya saat makan, berkumpul keluarga, atau sebelum tidur) di mana tidak ada gawai yang diizinkan. Ini membantu membangun interaksi nyata dan kualitas tidur yang lebih baik.
- Puasa Digital: Sesekali, coba lakukan “puasa digital” di mana Anda tidak menggunakan gawai sama sekali selama beberapa jam atau bahkan satu hari penuh. Manfaatkan waktu ini untuk membaca buku fisik, beribadah, atau berinteraksi langsung dengan alam dan orang sekitar.
- Saring Informasi dan Sumber: Ikuti akun-akun media sosial atau berlangganan kanal yang memberikan konten positif, edukatif, dan sesuai dengailai-nilai Islam. Hindari konten yang menimbulkan fitnah, ghibah, atau provokasi.
- Fokus pada Dhikr dan Ibadah: Gunakan teknologi untuk membantu Anda mengingat Allah, seperti aplikasi pengingat waktu salat, aplikasi Al-Qur’an, atau mendengarkan ceramah agama. Namun, pastikan ini tidak menggantikan ibadah langsung dan interaksi spiritual yang lebih dalam.
- Utamakan Interaksi Nyata: Jangan biarkan hubungan di dunia maya menggantikan silaturahmi dan interaksi tatap muka. Islam sangat menekankan pentingnya menjaga hubungan kekeluargaan dan persahabatan.
Dengan menerapkan tips-tips di atas, kita tidak hanya menjaga kesehatan mental dan produktivitas, tetapi juga memperkuat keimanan dan ketakwaan kita. Digital wellbeing dari perspektif Islam adalah jalan untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, menjauhkan diri dari kelalaian, dan senantiasa bersyukur atas setiap nikmat Allah.
Keseimbangan adalah kunci. Mari kita jadikan teknologi sebagai alat yang mendukung kita dalam beribadah dan berbuat kebaikan, bukan sebagai penghalang yang memisahkan kita dari tujuan hidup yang hakiki. Mengelola digital wellbeing dengan landasan Islam berarti mengelola diri kita agar senantiasa dekat dengan pencipta, menjaga amanah tubuh dan akal, serta memberikan manfaat bagi sesama.

Sebagai mahasiswa, tantangan digital wellbeing ini nyata banget. Dulu sering bablas scroll, tapi setelah coba praktik tips mirip ini, rasanya hati lebih tenang dan fokus kuliah juga meningkat. Alhamdulillah, makasih banyak udah dibahas dari sisi Islam!