Selasa di bulan Sya’ban datang bukan tanpa pesan. Ia hadir di antara kesibukan hidup yang sering membuat hati lelah tanpa disadari. Sya’ban adalah bulan persiapan, bulan transisi antara harapan dan kenyataan, antara niat dan amal. Di hari Selasa ini, kita diajak untuk berhenti sejenak, menundukkan hati, dan mulai merapikan jiwa secara perlahan sebelum Ramadhan benar-benar mengetuk pintu.

Merapikan hati pelan-pelan bukan perkara sepele. Ia berarti berani mengakui bahwa hati manusia mudah kotor oleh prasangka, iri, dendam, dan kelalaian. Sya’ban mengajarkan bahwa pembersihan jiwa tidak bisa instan. Ia membutuhkan kesadaran, kejujuran pada diri sendiri, serta kesungguhan untuk kembali kepada Allah. Selasa ini bisa menjadi awal untuk meluruskan niat ibadah, memperbaiki hubungan yang renggang, serta memperbanyak istighfar atas dosa yang sering dianggap kecil.
Rasulullah ﷺ memberikan perhatian besar pada bulan Sya’ban. Bahkan, beliau memperbanyak puasa dan amal di bulan ini. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa dalam satu bulan seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban.’ Beliau bersabda, ‘Itulah bulan yang sering dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Pada bulan itu amal-amal diangkat kepada Allah Rabb semesta alam, dan aku senang apabila amalku diangkat dalam keadaan berpuasa.’”
(HR. An-Nasa’i)
Hadits ini menjadi pengingat kuat bahwa Sya’ban adalah bulan evaluasi amal. Saat catatan amal diangkat, Rasulullah ﷺ ingin berada dalam kondisi terbaik, penuh ketaatan dan kesungguhan. Maka Selasa di bulan Sya’ban bukan sekadar hari biasa, melainkan peluang emas untuk memperbaiki kualitas ibadah dan kebersihan hati sebelum Ramadhan tiba.
Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah bulan ampunan, bulan penyucian jiwa, dan bulan perubahan. Namun perubahan tidak akan terjadi jika hati masih penuh beban. Jiwa yang tidak dirapikan sejak Sya’ban akan mudah lelah di awal Ramadhan. Sebaliknya, hati yang disiapkan perlahan akan lebih mudah khusyuk, lebih ringan melangkah, dan lebih lapang menerima rahmat Allah.
Merapikan hati juga berarti membiasakan diri dengan amal-amal kecil namun konsisten. Doa yang dipanjatkan setiap hari, sedekah meski sedikit, membaca Al-Qur’an walau belum banyak, serta menjaga lisan dan sikap. Semua itu adalah latihan agar saat Ramadhan datang, ibadah tidak terasa berat, melainkan menjadi kebutuhan ruhani.
Jangan menunggu Ramadhan untuk berubah. Mulailah hari ini, di Selasa bulan Sya’ban ini, dengan merapikan hati pelan-pelan. Sebab hati yang dirawat sejak sekarang akan lebih siap disinari ampunan, ditenangkan oleh rahmat, dan dikuatkan oleh keberkahan ketika Ramadhan benar-benar hadir 🌙✨
