Share

Meluruskan Pemahaman Bulan Safar: Antara Mitos Kesialan dan Keberkahan Ilahi

by Darul Asyraf · 31 Januari 2026

Bulan Safar adalah bulan kedua dalam kalender Hijriyah, yang seringkali diselimuti oleh berbagai mitos dan kepercayaaegatif di sebagian masyarakat, termasuk di Indonesia. Banyak yang mengaitkan bulan ini dengan kesialan, musibah, atau bahkan melarang beberapa kegiatan penting seperti pernikahan. Pemahaman yang keliru ini tentu saja bertentangan dengan ajaran Islam yang mengajarkan kita untuk selalu berprasangka baik kepada Allah SWT dan memahami bahwa setiap waktu adalah anugerah-Nya.

Artikel ini hadir untuk meluruskan pemahaman yang salah tentang bulan Safar, membongkar mitos-mitos yang tidak berdasar, serta menyingkap hikmah di baliknya. Lebih dari itu, kita akan membahas amalan-amalan yang dianjurkan dalam Islam agar kita dapat meraih keberkahan di bulan ini, sebagaimana layaknya bulan-bulan laiya, dan menjauhkan diri dari segala bentuk takhayul yang merugikan akidah.

Mitos Safar dan Penolakan dalam Ajaran Islam

Sejak zaman jahiliyah, masyarakat Arab memiliki kepercayaan bahwa bulan Safar adalah bulan yang penuh kesialan. Mitos ini kemudian menyebar dan bertahan hingga kini di berbagai belahan dunia Islam, termasuk di Indonesia. Beberapa kepercayaan yang sering muncul antara lain:

  • Kesialan dan Musibah: Anggapan bahwa di bulan Safar banyak terjadi musibah atau malapetaka.
  • Larangan Menikah: Kepercayaan bahwa menikah di bulan Safar akan membawa nasib buruk bagi pasangan.
  • Larangan Bepergian Jauh: Keyakinan bahwa bepergian di bulan ini dapat berujung pada kecelakaan atau kesialan.
  • Waktu Turuya Bala: Sebagian orang meyakini bahwa di bulan Safar Allah SWT menurunkan banyak bala atau penyakit.

Namun, semua mitos ini telah tegas dibantah oleh ajaran Islam. Rasulullah ﷺ telah bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

“Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya), tidak ada kesialan pada sesuatu, dan tidak ada burung hantu (yang menjadi pertanda sial), dan tidak ada kesialan pada bulan Safar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini secara gamblang menolak semua bentuk takhayul dan kesialan yang dikaitkan dengan suatu waktu, tempat, atau benda. Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak dan takdir Allah SWT. Tidak ada satu bulan pun yang membawa kesialan secara inheren, karena semua waktu adalah ciptaan Allah dan sama-sama memiliki potensi kebaikan maupun ujian.

Baca juga ini : Pentingnya Memahami Hukum Halal Haram dalam Kehidupan Sehari-hari

Safar dalam Sejarah Islam: Mengungkap Jejak Keberkahan

Jika kita menilik sejarah Islam, banyak peristiwa penting dan bahkan penuh keberkahan yang terjadi di bulan Safar. Hal ini semakin menguatkan bahwa bulan Safar adalah bulan yang sama mulianya dengan bulan-bulan laiya, jauh dari kesan kesialan:

  • Perang Khaibar: Salah satu ekspedisi militer penting dalam sejarah Islam, yaitu Penaklukan Khaibar, terjadi di bulan Safar tahun ke-7 Hijriyah. Ini adalah kemenangan besar bagi umat Islam.
  • Pernikahan Putri Rasulullah ﷺ: Meskipun ada beberapa pendapat, sebagian ulama menyebutkan bahwa pernikahan agung antara Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra, putri tercinta Rasulullah ﷺ, terjadi pada bulan Safar.
  • Pengutusan Utusan ke Yaman: Beberapa riwayat juga menyebutkan pengutusan beberapa sahabat mulia, seperti Ali bin Abi Thalib dan Khalid bin Walid, untuk berdakwah ke Yaman terjadi di bulan Safar.

Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan bahwa Safar bukanlah bulan yang kosong dari kebaikan. Justru, ia adalah saksi bisu bagi perjalanan dakwah dan perjuangan umat Islam yang penuh makna. Mengaitkan kesialan dengan bulan ini berarti mengabaikan fakta sejarah dan esensi ajaran Islam itu sendiri.

Hikmah di Balik Pemahaman yang Lurus tentang Bulan Safar

Memahami Safar dengan benar bukan hanya sekadar meluruskan mitos, tetapi juga menggali hikmah yang mendalam. Setiap waktu yang Allah ciptakan adalah kesempatan bagi hamba-Nya untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Hikmah-hikmah tersebut antara lain:

  • Kuatnya Tauhid dan Tawakal: Dengan menolak takhayul, kita memperkuat tauhid (keesaan Allah) dan tawakal (berserah diri sepenuhnya) kepada-Nya. Kita meyakini bahwa hanya Allah yang mampu mendatangkan manfaat atau mudarat.
  • Menghargai Setiap Waktu: Islam mengajarkan kita untuk memanfaatkan setiap detik waktu yang diberikan Allah. Tidak ada waktu yang lebih baik atau lebih buruk secara intrinsik; yang membedakan adalah bagaimana kita mengisinya dengan amal saleh.
  • Penolakan Syirik Kecil: Kepercayaan terhadap kesialan adalah bentuk syirik kecil yang dapat mengikis keimanan. Dengan meluruskan pemahaman, kita menjauhkan diri dari perbuatan yang merusak akidah.
  • Ketenangan Jiwa: Ketika seseorang tidak dibebani oleh kekhawatiran tak berdasar tentang kesialan, ia akan hidup lebih tenang dan optimis, fokus pada usaha dan doa.

Baca juga ini : Memperkuat Iman dan Ketakwaan Melalui Ilmu Agama

Amalan yang Dianjurkan untuk Meraih Keberkahan di Bulan Safar

Alih-alih percaya pada kesialan, seorang muslim yang bijak akan mengisi bulan Safar dengan berbagai amalan saleh, sebagaimana di bulan-bulan laiya. Inilah beberapa amalan yang dianjurkan untuk meraih keberkahan:

  • Meningkatkan Ibadah Wajib dan Sunah: Pastikan shalat lima waktu dikerjakan dengan khusyuk dan tepat waktu. Perbanyak juga shalat sunah seperti Dhuha, Rawatib, dan Tahajjud.
  • Memperbanyak Doa dan Dzikir: Manfaatkan setiap waktu untuk berdoa, memohon kebaikan, dan perlindungan dari segala keburukan. Perbanyak dzikir pagi dan petang, serta istighfar. Sebagaimana firman Allah SWT: “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahaam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60)
  • Membaca dan Merenungkan Al-Qur’an: Jadikan bulan Safar sebagai momentum untuk lebih dekat dengan kalamullah. Bacalah Al-Qur’an secara rutin, pahami maknanya, dan amalkan isinya.
  • Bersedekah: Sedekah adalah amalan yang sangat dianjurkan dan memiliki banyak keutamaan, termasuk menolak bala dan mendatangkan rezeki. Tidak ada waktu khusus untuk bersedekah, setiap saat adalah baik.
  • Menuntut Ilmu Agama: Manfaatkan waktu luang untuk belajar agama, membaca buku-buku Islami, atau mengikuti majelis ilmu. Dengan ilmu, kita akan semakin yakin akan kebenaran Islam dan terhindar dari kesesatan.
  • Mempererat Silaturahmi: Menjaga hubungan baik dengan keluarga, kerabat, dan tetangga adalah amalan yang mendatangkan keberkahan dan memanjangkan umur.
  • Tawakal kepada Allah: Yang terpenting adalah menanamkan keyakinan penuh kepada Allah SWT. Apapun yang terjadi, baik atau buruk, adalah takdir-Nya yang terbaik. Dengan tawakal, hati akan menjadi lebih tenang dan tentram.

Pada akhirnya, Safar hanyalah salah satu dari dua belas bulan dalam setahun. Ia tidak membawa kesialan, juga tidak secara otomatis membawa keberkahan. Keberkahan datang dari ketaatan kita kepada Allah SWT dan menjauhi segala bentuk kemusyrikan dan takhayul. Marilah kita isi bulan Safar ini dengan amal shaleh, memperkuat iman, dan senantiasa berprasangka baik kepada Allah. Dengan demikian, setiap hari, setiap bulan, termasuk bulan Safar, akan menjadi ladang pahala dan keberkahan bagi kita.

You may also like