Traveling, atau bepergian, adalah salah satu aktivitas yang disukai banyak orang. Bagi seorang muslimah, perjalanan bukan hanya tentang menikmati pemandangan atau pengalaman baru, tetapi juga tentang bagaimana menjaga syariat Islam tetap terlaksana dengan baik di setiap langkah. Islam adalah agama yang memudahkan umatnya, bahkan dalam kondisi safar (perjalanan). Ada banyak keringanan (rukhsah) yang diberikan, asalkan kita memahami ilmunya.
Artikel ini akan membahas tuntas panduan fiqih traveling khusus bagi muslimah, mulai dari persiapaiat, menjaga aurat, tata cara shalat, hingga tips keamanan agar liburan Anda tidak hanya aman dayaman, tetapi juga penuh berkah di sisi Allah SWT.
Niat dan Persiapan Sebelum Berangkat
Setiap amalan dalam Islam dimulai dengaiat. Begitu juga dengan traveling. Niatkan perjalanan Anda untuk hal-hal yang baik dan diridhai Allah SWT, seperti silaturahmi, menuntut ilmu, berdakwah, atau sekadar tadabbur alam (merenungi ciptaan Allah) yang dapat meningkatkan keimanan. Persiapan yang matang juga kunci. Pastikan dokumen perjalanan lengkap, bawa perlengkapan yang cukup sesuai kebutuhan syar’i (seperti mukena, sajadah kecil, pakaian syar’i cadangan), dan siapkan bekal secukupnya. Jangan lupa berdoa memohon keselamatan dan keberkahan dalam perjalanan.
Menjaga Aurat dan Pakaian Syar’i Selama Traveling
Aurat muslimah adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Kewajiban menutup aurat ini tetap berlaku meskipun sedang traveling. Pilihlah pakaian yang longgar, tidak membentuk lekuk tubuh, tidak transparan, dan tidak mencolok. Bahan pakaian juga penting agar nyaman dipakai di berbagai kondisi cuaca. Mengenakan jilbab atau khimar yang menutupi dada adalah keharusan. Bahkan, saat berada di tengah keramaian atau di tempat umum, menjaga pandangan dan tidak berhias berlebihan menjadi bagian penting dalam menjaga kehormatan diri.
Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nur: 31, “Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangaya, dan kemaluaya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasaya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…'” Ayat ini menjadi landasan kuat bagi muslimah untuk senantiasa menjaga penampilaya.
Shalat Selama Safar: Qashar dan Jama’
Salah satu kemudahan dalam Islam saat bepergian adalah keringanan dalam shalat. Muslimah yang sedang dalam perjalanan jauh (minimal 81 km menurut mayoritas ulama) diperbolehkan untuk melakukan:
- Qashar: Meringkas shalat empat rakaat (Dzuhur, Ashar, Isya) menjadi dua rakaat.
- Jama’: Menggabungkan dua waktu shalat dalam satu waktu. Ada dua jenis jama’:
- Jama’ Taqdim: Menggabungkan shalat Dzuhur dengan Ashar di waktu Dzuhur, atau Maghrib dengan Isya di waktu Maghrib.
- Jama’ Ta’khir: Menggabungkan shalat Dzuhur dengan Ashar di waktu Ashar, atau Maghrib dengan Isya di waktu Isya.
Anda bisa memilih qashar saja, jama’ saja, atau qashar sekaligus jama’. Keringanan ini berlaku sejak Anda keluar dari batas kota tempat tinggal Anda. Niatkan sejak awal untuk memanfaatkan rukhshah ini.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah suka jika rukhsah-rukhsah-Nya didatangi (dimanfaatkan) sebagaimana Dia suka jika hal-hal yang wajib ditunaikan.” (HR. Ahmad).
Baca juga ini : Muslimah Inspiratif di Media Sosial: Berdakwah dengan Akhlak dan Etika Digital Islami
Puasa Saat Safar: Keringanan yang Diberikan
Bagi muslimah yang sedang dalam perjalanan, diperbolehkan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadan, dengan kewajiban menggantinya (qadha) di hari lain setelah Ramadan. Hal ini termaktub dalam QS. Al-Baqarah: 185, “…maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkaya itu, pada hari-hari yang lain…”
Namun, jika dirasa mampu dan tidak memberatkan, berpuasa saat safar juga tidak dilarang. Keputusan ini dikembalikan kepada kondisi fisik masing-masing muslimah. Jika kondisi tubuh lemah dan puasa akan memberatkan atau membahayakan, maka lebih baik mengambil keringanan untuk tidak berpuasa dan mengqadhanya di kemudian hari.
Keamanan Diri dan Etika Berinteraksi Selama Bepergian
Keamanan adalah prioritas utama, terutama bagi muslimah.
- Bepergian dengan Mahram: Dianjurkan bagi muslimah untuk tidak bepergian jauh tanpa mahram. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak halal bagi seorang wanita muslimah bepergian sehari semalam kecuali bersamanya mahram.” (HR. Bukhari dan Muslim). Namun, ulama kontemporer memiliki pandangan yang lebih fleksibel terkait hal ini, terutama untuk perjalanan yang aman dan terjamin keselamataya, seperti ibadah haji/umrah atau studi, selama tidak ada fitnah dan keamanaya terjamin. Meskipun demikian, membawa mahram tetap yang paling utama dan afdal.
- Waspada Lingkungan: Selalu waspada terhadap lingkungan sekitar, hindari berjalan sendirian di tempat sepi, dan jaga barang bawaan Anda.
- Etika Berinteraksi: Tetap jaga adab dan batasan dalam berinteraksi dengan lawan jenis. Hindari pembicaraan yang tidak perlu atau berdua-duaan (khalwat) dengaon-mahram.
- Informasi Kontak Darurat: Catat nomor-nomor penting seperti keluarga, kedutaan, atau kontak darurat lokal.
Menjaga Konsumsi Makanan dan Minuman Halal
Selama traveling, mencari makanan halal bisa menjadi tantangan tersendiri, apalagi di negara non-muslim. Penting untuk:
- Riset Sebelumnya: Cari tahu restoran halal atau toko bahan makanan halal di destinasi Anda. Manfaatkan aplikasi atau website komunitas muslim.
- Bawa Bekal: Siapkan beberapa bekal makanan ringan halal dari rumah yang praktis dan tahan lama.
- Waspada Bahan Baku: Pahami bahan-bahan yang seringkali tidak halal, seperti gelatin, alkohol, atau daging yang tidak disembelih secara syar’i.
- Sertifikasi Halal: Jika ada, utamakan produk atau tempat makan yang memiliki sertifikasi halal yang terpercaya. LP3H Darul Asyraf dan Sertifikasi Halal selalu mendorong kesadaran akan pentingnya produk halal bagi umat muslim.
Baca juga ini : Destinasi Wisata Halal Terbaik di Indonesia: Liburan Keluarga Penuh Berkah dan Aman
Hikmah dan Manfaat Traveling dalam Islam
Traveling bukan sekadar rekreasi, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk memperkuat iman dan memperluas wawasan.
- Tadabbur Alam: Mengamati keindahan alam ciptaan Allah SWT akan meningkatkan rasa syukur dan kekaguman akan kebesaran-Nya.
- Menuntut Ilmu: Berjalan mencari ilmu ke berbagai tempat adalah perintah agama.
- Silaturahmi: Mengunjungi kerabat atau teman di tempat yang jauh akan mempererat tali persaudaraan.
- Melihat Sejarah Islam: Mengunjungi situs-situs bersejarah Islam dapat memberikan pelajaran berharga dan membangkitkan semangat.
Allah SWT berfirman, “Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian Allah menjadikan kejadian yang kedua. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Ankabut: 20).
Traveling bagi muslimah adalah sebuah kesempatan emas untuk menjelajahi dunia sambil tetap memegang teguh prinsip-prinsip Islam. Dengan memahami fiqih traveling, mulai dari niat yang lurus, menjaga aurat, memanfaatkan keringanan shalat dan puasa, hingga memperhatikan keamanan diri dan konsumsi halal, setiap perjalanan akan menjadi ibadah yang mendatangkan pahala dan keberkahan. Semoga setiap langkah kaki muslimah dalam safar senantiasa dalam lindungan dan ridha Allah SWT, sehingga kembali membawa pengalaman yang berharga dan keimanan yang semakin kokoh.
