Memasuki H-20 Ramadhan, kita semakin dekat dengan hari kemenangan. Namun, Ramadhan bukanlah tentang siapa yang paling cepat menyelesaikan target ibadah, melainkan tentang siapa yang mampu bertahan dengan istiqamah hingga akhir.

Di fase ini, sebagian orang mulai merasa lelah. Semangat yang dulu membara perlahan meredup. Tapi justru di sinilah nilai ibadah diuji. Ramadhan mengajarkan bahwa setiap usaha kecil yang dilakukan dengan niat tulus tetap bernilai besar di sisi Allah SWT.
Allah tidak pernah menyia-nyiakan kebaikan hamba-Nya, sekecil apa pun amal itu. Sebagaimana firman Allah SWT:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. At-Taubah: 120)
Ayat ini menjadi penguat bahwa Allah melihat proses perjuangan, bukan sekadar hasil akhir. Saat kita masih berusaha menjaga shalat, menahan lisan, memperbaiki niat, dan terus kembali meski jatuh, semua itu bernilai ibadah.
Makna H-20 Ramadhan
H-20 Ramadhan mengingatkan kita bahwa:
-
Ibadah tidak harus sempurna, tetapi harus terus diperbaiki
-
Konsistensi lebih utama daripada semangat sesaat
-
Selama masih ada waktu, selalu ada kesempatan untuk kembali
Ramadhan bukan ajang perlombaan, melainkan perjalanan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan hati yang rendah dan penuh harap.
Jangan berhenti hanya karena lelah. Jangan menyerah hanya karena merasa belum maksimal. Teruslah melangkah, walau pelan. Karena Ramadhan selalu memberi ruang untuk kembali, memperbaiki diri, dan menumbuhkan harapan. Istiqamah hari ini lebih berharga daripada rencana besar yang tak pernah dimulai.
