Share

Islam dan Etika Kecerdasan Buatan: Menjelajahi Batasan dan Potensi untuk Kemaslahatan Umat

by Darul Asyraf · 28 September 2025

Era kecerdasan buatan (AI) bukan lagi sekadar fiksi ilmiah, melainkan kenyataan yang semakin mendalam dalam kehidupan kita. Dari asisten virtual di ponsel hingga algoritma kompleks yang menggerakkan berbagai industri, AI telah mengubah cara kita bekerja, berinteraksi, dan bahkan berpikir. Namun, di balik segala kemudahan dan potensi luar biasa ini, muncul pula pertanyaan-pertanyaan etis yang mendalam. Bagaimana kita memastikan bahwa teknologi ini berkembang dan digunakan untuk kebaikan? Bagaimana Islam, sebagai pedoman hidup yang komprehensif, memandang tantangan dan peluang yang dibawa oleh era AI ini?

Artikel ini akan mengupas tuntas perspektif Islam terhadap etika pengembangan dan penggunaan kecerdasan buatan. Kita akan melihat bagaimana nilai-nilai universal Islam, yang menekankan keadilan, kemaslahatan, dan tanggung jawab, dapat menjadi kompas dalam menavigasi kompleksitas dunia AI.

AI: Anugerah atau Ujian?

Dalam Islam, ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi dipandang sebagai karunia Allah SWT yang harus disyukuri dan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Mujadalah ayat 11:

Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.

Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan, termasuk ilmu yang melahirkan AI, adalah sesuatu yang mulia. AI, dengan kemampuaya untuk memproses data dalam skala besar, mengenali pola, dan bahkan belajar, memiliki potensi untuk menjadi alat yang sangat ampuh dalam memecahkan masalah kemanusiaan. Bayangkan AI yang membantu mendiagnosis penyakit lebih cepat, mengoptimalkan distribusi pangan, atau bahkan memprediksi bencana alam. Ini semua adalah bentuk kemaslahatan yang sejalan dengan tujuan syariat Islam.

Namun, setiap anugerah juga membawa amanah dan ujian. Bagaimana kita menggunakan “ilmu” yang terwujud dalam AI ini? Apakah kita akan menggunakaya untuk menindas, memecah belah, atau justru untuk menebarkan kebaikan dan keadilan?

Prinsip Etika Islam dalam Pengembangan dan Penggunaan AI

Islam menyediakan kerangka etika yang kokoh yang dapat diterapkan pada pengembangan dan penggunaan AI. Beberapa prinsip utama yang relevan antara lain:

1. Tauhid dan Kedaulatan Allah

Prinsip tauhid (keesaan Allah) mengajarkan bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta dan Pengatur alam semesta. Manusia adalah khalifah (wakil) Allah di bumi, yang diberi akal dan kemampuan untuk berkreasi, namun tidak boleh melampaui batas dan menganggap dirinya sebagai “tuhan” atau sumber kekuatan mutlak. Dalam konteks AI, ini berarti kita harus selalu ingat bahwa AI adalah ciptaan manusia, dan tidak boleh disembah atau dianggap memiliki kekuatan ilahi. Pengembangan AI harus senantiasa berada dalam kerangka mengakui kedaulatan Allah.

Oleh karena itu, ketika kita merancang AI yang semakin canggih, kita tidak boleh menciptakan sistem yang mengklaim kesadaran atau kehendak bebas yang menyaingi manusia, apalagi Tuhan. Batasan ini penting untuk menjaga akidah dan etika.

2. Keadilan (Al-Adl)

Keadilan adalah pilar utama dalam Islam. Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 135:

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu.

Dalam pengembangan AI, prinsip keadilan mengharuskan kita untuk memastikan bahwa algoritma tidak bias dan tidak diskriminatif. Data yang digunakan untuk melatih AI harus representatif dan adil, sehingga keputusan yang dihasilkan oleh AI tidak merugikan kelompok masyarakat tertentu. Misalnya, sistem AI untuk rekrutmen tidak boleh secara tidak sadar mengeliminasi kandidat berdasarkan jenis kelamin, ras, atau latar belakang sosial yang tidak relevan dengan kualifikasi kerja. Transparansi dan akuntabilitas dalam cara AI bekerja juga menjadi bagian dari keadilan.

Baca juga ini : Literasi Data dan Kecerdasan Buatan dalam Bingkai Islam: Menggapai Manfaat, Menjaga Etika untuk Kesejahteraan Umat

3. Kemaslahatan (Al-Maslahah) dan Menghindari Kerusakan (Mafsadah)

Setiap tindakan dalam Islam harus bertujuan untuk membawa kebaikan (maslahah) dan mencegah kerusakan (mafsadah) bagi individu dan masyarakat. Ini adalah tujuan utama syariat. AI harus dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, menjaga lingkungan, dan mendukung perdamaian. Contohnya, AI dapat digunakan untuk memprediksi dan mengurangi polusi, meningkatkan efisiensi energi, atau membantu pendidikan bagi mereka yang kurang beruntung.

Sebaliknya, pengembangan AI yang berpotensi merugikan, seperti AI untuk senjata otonom tanpa kendali manusia, atau AI yang mengancam privasi dan kebebasan individu secara berlebihan, harus dihindari. Para pengembang dan pengguna AI memiliki tanggung jawab besar untuk mempertimbangkan dampak jangka panjang dari teknologi ini.

4. Tanggung Jawab (Mas’uliyah)

Manusia dimintai pertanggungjawaban atas setiap perbuataya. Dalam Islam, tidak ada tindakan yang luput dari perhitungan. Hadis riwayat Bukhari dan Muslim menyatakan:

Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinaya.

Prinsip ini sangat relevan dalam era AI. Siapa yang bertanggung jawab jika AI membuat keputusan yang salah atau merugikan? Pengembang, operator, atau pemilik sistem AI? Islam menuntut adanya kejelasan mengenai siapa yang memegang kendali dan bertanggung jawab atas dampak dari teknologi yang diciptakan. Ini mendorong kehati-hatian dalam desain, pengujian, dan implementasi AI.

Baca juga ini : Disiplin Diri daiat Ikhlas: Kunci Hidup Produktif dan Penuh Berkah dalam Islam

Menghindari Bahaya Potensial AI dalam Perspektif Islam

Selain prinsip-prinsip di atas, Islam juga mengingatkan kita untuk mewaspadai potensi penyalahgunaan dan dampak negatif AI:

  • Privasi Data: AI bergantung pada data, seringkali data pribadi. Islam sangat menghargai privasi individu. Pengembangan AI harus memastikan perlindungan data pribadi dan menghindari pengumpulan atau penggunaan data yang berlebihan tanpa izin yang jelas, sesuai dengan prinsip menjaga kehormatan manusia.
  • Bias dan Diskriminasi: Seperti yang sudah disebutkan, jika data pelatihan AI mengandung bias, hasilnya akan diskriminatif. Islam menolak segala bentuk diskriminasi. Maka dari itu, upaya untuk menciptakan AI yang adil dan tidak bias adalah sebuah kewajiban etis.
  • Otonomi Berlebihan: Jika AI diberikan otonomi penuh tanpa pengawasan manusia, hal ini dapat menimbulkan masalah etika yang serius, terutama dalam konteks pengambilan keputusan vital. Islam mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki kehendak bebas dan tanggung jawab moral, dan peran ini tidak dapat sepenuhnya didelegasikan kepada mesin.
  • Dampak Sosial dan Ekonomi: AI dapat mengubah pasar kerja dan struktur sosial. Perspektif Islam mendorong kita untuk menggunakan AI guna menciptakan peluang baru, bukan memperlebar kesenjangan. Pendidikan ulang dan pelatihan keterampilan baru bagi masyarakat yang pekerjaaya tergantikan AI menjadi sangat penting.

AI untuk Kemaslahatan Umat: Aplikasi yang Sesuai Syariat

Dengan menerapkan prinsip-prinsip etika Islam, AI memiliki potensi besar untuk berkontribusi pada kemaslahatan umat manusia:

  • Kesehatan: Diagnosis penyakit yang lebih akurat, pengembangan obat, perawatan personalisasi, dan manajemen rumah sakit yang efisien.
  • Pendidikan: Platform belajar adaptif, tutor AI yang membantu siswa, dan akses pendidikan yang lebih merata.
  • Lingkungan: Pemantauan perubahan iklim, manajemen sumber daya alam yang berkelanjutan, dan prediksi bencana.
  • Kemanusiaan: Bantuan dalam penanggulangan bencana, pencarian dan penyelamatan, serta dukungan bagi pengungsi.
  • Ekonomi: Peningkatan efisiensi produksi, pengembangan produk dan layanan halal, serta menciptakan peluang kerja baru.

Penting bagi umat Muslim, baik ilmuwan, pengembang, maupun pengguna, untuk secara aktif terlibat dalam diskusi dan pengembangan etika AI. Dengan demikian, kita dapat memastikan bahwa teknologi ini berkembang sesuai dengailai-nilai luhur Islam, mewujudkan kebaikan bagi seluruh alam.

Era AI memang membawa tantangan, tetapi juga peluang yang tak terhingga. Dengan berpegang teguh pada etika Islam yang berlandaskan tauhid, keadilan, kemaslahatan, dan tanggung jawab, kita dapat membentuk masa depan AI yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bermoral dan berkah bagi seluruh umat manusia.

You may also like