Share
4

Santri dan Ulama: Garda Terdepan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

by Darul Asyraf · 23 September 2025

Sejarah kemerdekaan Indonesia adalah kisah panjang tentang perjuangan, pengorbanan, dan semangat pantang menyerah dari seluruh elemen bangsa. Di antara narasi heroik tersebut, peran santri dan ulama seringkali menjadi fondasi yang kokoh, menggerakkan massa, dan membakar api perlawanan terhadap penjajah. Mereka bukan hanya pemuka agama, tetapi juga pemimpin pergerakan, pejuang di medan laga, dan pendidik yang mencetak generasi patriotik. Menelusuri jejak mereka adalah menyelami semangat jihad dan cinta tanah air yang tak pernah pudar.

Api Jihad daasionalisme dalam Sanubari Santri dan Ulama

Jauh sebelum kemerdekaan diproklamasikan, pesantren-pesantren dan majelis taklim adalah pusat perlawanan. Para santri dididik tidak hanya ilmu agama, tetapi juga digembleng dengan jiwa kemandirian, keberanian, dan penolakan terhadap kezaliman. Ulama dengan khotbah dan fatwa-fatwanya menyuarakan pentingnya membela tanah air sebagai bagian dari ajaran agama.

Konsep jihad dalam konteks perjuangan kemerdekaan dimaknai sebagai upaya maksimal untuk membela diri, agama, dan bangsa dari penindasan. Ini bukanlah jihad yang sempit, melainkan jihad yang mencakup perjuangan fisik, intelektual, dan moral. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Anfal ayat 60:

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu sendiri, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Anfal: 60)

Ayat ini menjadi inspirasi bagi para pejuang untuk selalu mempersiapkan diri dan tidak gentar menghadapi musuh. Spirit ini diperkuat dengan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Cinta tanah air sebagian dari iman.” Meskipun para ulama berbeda pendapat tentang status hadis ini (dhaif), namun maknanya telah mengakar kuat dan menjadi motivasi luar biasa bagi umat Islam di Indonesia untuk berjuang membela negara.

Resolusi Jihad dan Puncak Perlawanan

Salah satu momen paling monumental yang menunjukkan peran heroik santri dan ulama adalah keluarnya “Resolusi Jihad” pada 22 Oktober 1945. Resolusi ini dikeluarkan oleh Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, setelah bermusyawarah dengan ulama-ulama se-Jawa dan Madura di Surabaya. Isi resolusi tersebut adalah wajib hukumnya bagi setiap Muslim untuk mengangkat senjata melawan penjajah yang ingin kembali menguasai Indonesia. Barang siapa yang meninggal dalam perjuangan ini, maka ia mati syahid.

Resolusi Jihad ini memantik semangat perlawanan yang luar biasa, puncaknya terjadi pada Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Ribuan santri, kiai, dan rakyat bergerak ke Surabaya dengan persenjataan seadanya, namun dengan semangat membara. Mereka menghadapi tentara Sekutu (termasuk Inggris dan Belanda) yang jauh lebih modern dan bersenjata lengkap. Pertempuran sengit ini menjadi simbol keberanian dan pengorbanan rakyat Indonesia, yang sebagian besar dimotori oleh santri dan ulama.

Dalam situasi sulit dan penuh tekanan, tawakal dan ikhtiar menjadi kunci bagi para pejuang. Mereka yakin bahwa pertolongan Allah akan datang bagi mereka yang berjuang di jalan-Nya. Untuk memahami lebih jauh tentang ketenangan hati dalam menghadapi tantangan,

Baca juga ini : Tawakal dan Ikhtiar: Kunci Menghadapi Tantangan Hidup dengan Hati Tenang dalam Islam

Kontribusi dalam Pendidikan dan Pembentukan Karakter Bangsa

Selain di medan perang, peran santri dan ulama juga tak terpisahkan dari dunia pendidikan. Pesantren bukan hanya tempat mengaji, melainkan juga kawah candradimuka untuk membentuk karakter nasionalis dan religius. Mereka mengajarkailai-nilai luhur Islam yang sejalan dengan semangat kebangsaan, seperti keadilan, persatuan, toleransi, dan kemandirian.

Para ulama juga aktif dalam perjuangan politik, baik melalui organisasi Islam maupun sebagai penasihat para pemimpin bangsa. Mereka menyuarakan hak-hak rakyat, menentang kebijakan-kebijakan kolonial yang merugikan, dan ikut serta dalam perumusan dasar negara. Kontribusi mereka dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa sangatlah besar, bahkan di tengah perbedaan pandangan.

Meneladani Spirit Jihad dan Cinta Tanah Air Masa Kini

Semangat jihad dan cinta tanah air yang diwariskan oleh santri dan ulama tidak lekang oleh waktu. Di masa kini, makna jihad tentu bergeser dari perjuangan fisik menjadi perjuangan di berbagai bidang untuk memajukan bangsa. Jihad bisa berupa memerangi kemiskinan, kebodohan, korupsi, dan ketidakadilan. Cinta tanah air diwujudkan dengan berkarya, berinovasi, menjaga persatuan, serta melestarikan budaya dailai-nilai luhur bangsa.

Para santri dan ulama hari ini terus melanjutkan estafet perjuangan dengan fokus pada pendidikan, dakwah, dan pembangunan masyarakat. Mereka menjadi garda terdepan dalam menjaga moralitas bangsa, menyebarkailai-nilai moderasi Islam, serta membimbing umat menuju kehidupan yang lebih baik. Tantangan yang dihadapi mungkin berbeda, namun semangat untuk memberikan yang terbaik bagi agama, bangsa, daegara tetap sama.

Menghadapi berbagai ujian kehidupan, baik pribadi maupun berbangsa, kesabaran dan shalat menjadi pondasi utama. Dua hal ini adalah benteng terkokoh bagi umat Muslim dalam menghadapi segala cobaan. Simak lebih lanjut tentang kekuatan ini:

Baca juga ini : Menghadapi Ujian Hidup: Sabar dan Shalat, Dua Benteng Terkokoh Umat Muslim

Kisah heroik para santri dan ulama dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah cermin keteladanan yang tak ternilai. Mereka mengajarkan kita bahwa keberanian, keimanan, dan persatuan adalah kunci untuk meraih dan menjaga sebuah kemerdekaan. Warisan semangat mereka harus terus kita pelihara dan teladani, agar Indonesia senantiasa menjadi bangsa yang berdaulat, adil, makmur, dan berakhlak mulia.

You may also like