Share

Utsman bin Affan: Khalifah Dermawan, Penjaga Kemurnian Al-Qur’an

by Darul Asyraf · 11 September 2025

Dalam lembaran sejarah Islam yang mulia, nama Utsman bin Affan selalu disebut dengan penuh penghormatan. Beliau adalah salah satu dari empat Khulafaur Rasyidin, khalifah ketiga yang memimpin umat Islam setelah wafatnya Rasulullah ﷺ. Dikenal dengan julukan Dzuurain, atau “Pemilik Dua Cahaya”, Utsman bin Affan adalah sosok yang menggabungkan kedermawanan luar biasa, ketakwaan mendalam, dan peran sentral dalam menjaga kemurnian Al-Qur’an yang kita baca hingga hari ini. Kehidupaya adalah teladan yang kaya akan pelajaran, mulai dari masa-masa awal keislamaya, pengorbanaya untuk agama, hingga kepemimpinaya yang monumental.

Utsman bin Affan dilahirkan dari keluarga bangsawan Quraisy, Bani Umayyah, sekitar enam tahun setelah kelahiraabi Muhammad ﷺ. Kekayaan dan status sosial yang dimilikinya tidak lantas membuatnya terbuai kemewahan duniawi. Sebaliknya, ketika ajakan Islam datang melalui Abu Bakar Ash-Shiddiq, Utsman tidak ragu untuk menerima seruan tauhid. Keislamaya menjadi tonggak penting dalam hidupnya, mengubah arah kehidupaya dari seorang pedagang sukses menjadi salah satu pilar utama dalam pembangunan peradaban Islam.

Hubungan Utsman dengan Rasulullah ﷺ sangatlah istimewa. Beliau menikahi dua putri Nabi, Ruqayyah dan Ummu Kultsum, sehingga memberinya julukan “Dzuurain” (pemilik dua cahaya). Ketika Ruqayyah wafat, Rasulullah ﷺ menikahkan Utsman dengan Ummu Kultsum. Pernikahan ini menjadi bukti betapa mulianya kedudukan Utsman di mata Rasulullah ﷺ, sebuah kehormatan yang tidak pernah didapatkan oleh siapa pun selain beliau.

Kedermawanan Tiada Tara: Kekayaan untuk Dakwah dan Umat

Kedermawanan Utsman bin Affan adalah salah satu sifatnya yang paling menonjol dan legendaris. Beliau menggunakan seluruh hartanya untuk mendukung dakwah Islam dan kesejahteraan umat, tanpa sedikitpun keraguan. Banyak peristiwa penting dalam sejarah Islam yang menjadi saksi bisu keikhlasan dan kedermawanan beliau:

  • Sumur Raumah: Ketika kaum Muslimin di Madinah mengalami kesulitan air bersih, Utsman membeli sumur Raumah dari seorang Yahudi dengan harga sangat tinggi, lalu mewakafkaya untuk seluruh umat Islam, tanpa memungut bayaran.
  • Perang Tabuk: Dalam ekspedisi Tabuk yang sulit, Utsman menyumbangkan 300 unta lengkap dengan pelana dan perlengkapaya, serta 1.000 dinar emas untuk keperluan perang. Sumbangan ini sangat besar dan vital pada saat itu. Rasulullah ﷺ bahkan bersabda, “Tidak akan membahayakan Utsman dosa apapun yang dia lakukan setelah hari ini.”
  • Perluasan Masjid Nabawi: Beliau juga menjadi donatur utama dalam perluasan Masjid Nabawi, memastikan umat memiliki tempat ibadah yang layak dan luas.

Kedermawanan Utsman bukan hanya sekadar memberi, tetapi juga manifestasi dari keyakinaya yang teguh terhadap janji Allah. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Ayat ini seolah terwujud dalam diri Utsman, di mana setiap kedermawanaya mendatangkan keberkahan yang berlipat ganda, baik bagi dirinya maupun bagi umat Islam. Warisan kedermawanaya terus menginspirasi generasi Muslim untuk berinfak dan bersedekah di jalan Allah.

Baca juga ini : Pentingnya Kedermawanan dalam Islam

Masa Kekhalifahan dan Tantangan

Utsman bin Affan diangkat menjadi khalifah ketiga pada tahun 23 Hijriah, setelah wafatnya Umar bin Khattab. Masa kepemimpinaya berlangsung selama dua belas tahun, sebuah periode yang diwarnai oleh perluasan wilayah Islam yang signifikan, sekaligus munculnya tantangan-tantangan internal. Di bawah kepemimpinaya, kekuasaan Islam meluas hingga ke Afrika Utara, Siprus, dan sebagian wilayah Asia Tengah. Armada laut Islam pun berhasil dibangun, mengamankan jalur perdagangan dan pertahanan.

Namun, menjelang akhir kekhalifahaya, muncul gelombang fitnah dan pemberontakan dari kelompok-kelompok yang tidak puas. Meskipun Utsman berusaha menyelesaikan masalah ini dengan bijaksana dan damai, situasi semakin memburuk hingga menyebabkan pengepungan di rumahnya. Beliau wafat sebagai syahid pada tahun 35 Hijriah, saat sedang membaca Al-Qur’an.

Peran Sentral dalam Standardisasi Al-Qur’an: Mushaf Utsmani

Salah satu kontribusi terbesar Utsman bin Affan yang memiliki dampak abadi bagi umat Islam adalah peraya dalam standardisasi Al-Qur’an. Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, Al-Qur’an telah dikumpulkan dalam bentuk suhuf (lembaran-lembaran) pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq. Namun, seiring dengan meluasnya wilayah Islam dan banyaknya qari (pembaca Al-Qur’an) dari berbagai daerah dengan dialek yang berbeda, muncul kekhawatiran akan terjadinya perbedaan bacaan (qira’at) yang bisa menimbulkan perpecahan di kalangan umat.

Melihat potensi bahaya ini, Hudzaifah bin Yaman melaporkan kekhawatiran tersebut kepada Khalifah Utsman. Dengan sigap, Utsman membentuk panitia yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit, yang juga pernah menjadi penulis wahyu di masa Rasulullah ﷺ. Panitia ini bertugas mengumpulkan kembali seluruh mushaf dan suhuf yang ada, membandingkaya, dan menulis ulang Al-Qur’an dalam satu dialek standar, yaitu dialek Quraisy, yang dikenal sebagai Mushaf Utsmani. Mushaf ini kemudian disalin menjadi beberapa eksemplar dan dikirimkan ke berbagai pusat peradaban Islam, dengan perintah agar mushaf selain itu dibakar untuk mencegah perselisihan.

Tindakan Utsman ini adalah langkah yang sangat visioner dan krusial. Tanpa inisiatif beliau, kemurnian dan kesatuan Al-Qur’an mungkin tidak akan terjaga seutuhnya. Melalui Mushaf Utsmani, umat Islam di seluruh dunia dapat membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang seragam dan otentik, persis seperti yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ. Inilah warisan terbesar Utsman bin Affan yang terus menjadi pegangan bagi miliaran Muslim hingga hari kiamat.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Ayat ini menunjukkan janji Allah untuk menjaga Al-Qur’an, dan salah satu cara Allah mewujudkan janji-Nya adalah melalui perantara hamba-Nya yang saleh seperti Utsman bin Affan. Beliau adalah sosok yang memahami betul urgensi menjaga kitab suci ini.

Baca juga ini : Menjaga Kemurnian Al-Quran: Pelajaran dari Sejarah

Teladan Abadi dari Sang Khalifah

Kehidupan Utsman bin Affan adalah sebuah mahakarya ketakwaan, pengorbanan, dan kedermawanan. Dari kepribadiaya yang lembut namun tegas, hingga kepemimpinaya yang berani mengambil keputusan demi kemaslahatan umat, beliau telah meninggalkan jejak yang tak terhapuskan. Kedermawanaya menunjukkan bahwa harta adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan tujuan hidup. Sementara peraya dalam standardisasi Al-Qur’an mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga kemurnian ajaran agama dan persatuan umat. Mari kita mengambil inspirasi dari kehidupan Utsman bin Affan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dermawan, peduli terhadap sesama, dan selalu menjaga nilai-nilai luhur Islam.

You may also like