Bulan Sya’ban adalah bulan yang sering terlewat tanpa perhatian khusus. Padahal, dalam perjalanan spiritual seorang Muslim, Sya’ban memiliki peran yang sangat penting. Ia bukan hanya pengantar Ramadhan, tetapi masa persiapan ruhani agar Ramadhan tidak dijalani dengan hati yang kosong dan ibadah yang tergesa-gesa.

Rasulullah ﷺ memberikan teladan yang sangat jelas tentang keutamaan bulan Sya’ban. Beliau memperbanyak puasa di bulan ini, sebagai isyarat bahwa sebelum memasuki bulan penuh ampunan, seorang hamba perlu lebih dulu menata diri. Sya’ban adalah waktu untuk memperbaiki kebiasaan, melatih konsistensi, dan menguatkan hubungan dengan Allah.
Ketika puasa sunnah di bulan Sya’ban dilakukan pada hari Kamis, keutamaannya semakin bertambah. Kamis adalah hari diangkatnya amal-amal manusia. Maka berpuasa pada hari ini bukan sekadar ibadah jasmani, melainkan bentuk kesiapan ruhani agar amal yang diangkat berada dalam keadaan terbaik: penuh kesabaran, keikhlasan, dan ketundukan kepada Allah.
Satu hari puasa di Kamis bulan Sya’ban mungkin terlihat kecil di mata manusia. Namun di sisi Allah, ia bisa menjadi amal yang bernilai besar. Sebab, puasa adalah ibadah yang penuh kejujuran. Tidak ada yang tahu apakah seseorang benar-benar berpuasa selain dirinya dan Allah. Di situlah keikhlasan diuji dan dibentuk.
Puasa Kamis di bulan Sya’ban juga menjadi latihan pengendalian diri. Menahan lapar, menahan dahaga, dan menahan hawa nafsu adalah pelajaran penting sebelum Ramadhan tiba. Jiwa yang dilatih sejak Sya’ban akan lebih siap menghadapi panjangnya hari-hari Ramadhan dengan kesabaran dan keteguhan iman.
Lebih dari itu, puasa ini menjadi cermin kejujuran diri. Apakah kita benar-benar rindu pada Ramadhan, atau hanya menantikan suasana dan tradisinya? Apakah kita siap memperbaiki shalat, memperbanyak doa, dan meninggalkan kebiasaan buruk? Ataukah kita masih menunda perubahan dengan alasan “nanti di Ramadhan saja”?
Sya’ban hadir untuk mengingatkan bahwa perubahan sejati tidak datang secara tiba-tiba. Ia lahir dari proses, dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan niat yang lurus. Satu hari puasa di Kamis bulan Sya’ban adalah langkah awal menuju perubahan itu.
Di balik rasa lapar yang ditahan, ada doa yang perlahan dipanjatkan. Di balik rasa lelah, ada harapan agar Allah memantaskan diri kita menjadi tamu Ramadhan yang baik. Puasa ini mengajarkan kerendahan hati: bahwa tanpa pertolongan Allah, kita tidak akan mampu menjalani Ramadhan dengan sempurna.
Satu hari puasa ini semoga menjadi saksi di hadapan Allah, bahwa kita pernah berusaha mempersiapkan diri. Bahwa kita tidak menunggu Ramadhan datang untuk mulai taat, tetapi sudah berlatih sejak Sya’ban, meski dengan amal yang sederhana.
Karena sesungguhnya, Ramadhan yang berkah bukan hanya diukur dari banyaknya ibadah, tetapi dari kesiapan hati saat menjalaninya. Dan Sya’ban adalah ladang terbaik untuk menanam kesiapan itu.
Jangan meremehkan satu hari puasa di bulan Sya’ban. Bisa jadi, satu hari itulah yang Allah jadikan sebab hati kita dikuatkan, niat kita diluruskan, dan langkah kita dimudahkan di Ramadhan nanti. Mulailah dari yang mampu, istiqamahlah meski sedikit, dan serahkan hasilnya kepada Allah. Semoga Ramadhan kita kelak dipenuhi keberkahan, ketenangan, dan ampunan-Nya.

Subhanallah, benar sekali. Puasa sunnah di Sya’ban memang cara terbaik memanaskan mesin hati menyambut Ramadhan.