Pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan dalam ikatan suci, melainkan juga menggabungkan dua keluarga besar menjadi satu. Dalam konteks ini, hubungan dengan besan, atau mertua dan kerabat pasangan, memegang peranan yang sangat fundamental. Harmoni dalam hubungan dengan besan seringkali menjadi cerminan kebahagiaan rumah tangga. Sebaliknya, gesekan atau konflik dengan besan dapat menjadi sumber ketegangan yang mengganggu kedamaian keluarga kecil yang baru dibangun.
Menjaga hubungan baik dengan besan adalah investasi jangka panjang untuk keutuhan dan keberkahan keluarga. Dalam Islam, hal ini termasuk dalam kategori mempererat silaturahmi, yang memiliki kedudukan mulia dan dianjurkan. Pendekatan Islami menawarkan panduan komprehensif untuk menghadapi dinamika hubungan besan, mulai dari cara berkomunikasi, mengatasi perbedaan, hingga menyelesaikan konflik dengan bijaksana.
Pentingnya Menjaga Hubungan Baik dengan Besan
Hubungan yang baik dengan besan membawa banyak manfaat. Selain menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat dan saling mendukung, ia juga memberikan contoh positif bagi anak cucu tentang bagaimana menghormati dan menyayangi keluarga besar. Ketika hubungan ini terjaga, kita akan merasakan kedamaian dan ketenteraman karena tahu bahwa ada jaringan dukungan yang luas di sekeliling kita.
1. Komunikasi yang Efektif dan Beretika
Kunci utama dalam setiap hubungan adalah komunikasi, termasuk dengan besan. Penting untuk selalu berkomunikasi dengan etika dan rasa hormat. Hindari berbicara dengaada tinggi atau kata-kata yang menyakitkan. Al-Qur’an menganjurkan kita untuk berkata-kata yang baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar).’ Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS. Al-Isra: 53)
Dalam praktiknya, usahakan untuk sering bertanya kabar, berbagi cerita positif, dan sesekali meminta nasihat (jika sesuai). Mendengarkan dengan saksama tanpa memotong pembicaraan juga menunjukkan rasa hormat. Jika ada hal yang kurang pas, sampaikanlah dengan kepala dingin, secara personal, dan menggunakan bahasa yang santun, bukan di hadapan umum atau dengan emosi.
2. Saling Menghargai dan Memahami Perbedaan
Setiap keluarga memiliki tradisi, kebiasaan, dan cara pandang yang berbeda. Sangat wajar jika ada perbedaan antara keluarga kita dan keluarga besan. Kuncinya adalah saling menghargai dan berusaha memahami latar belakang masing-masing. Hindari sikap menghakimi atau membanding-bandingkan. Dalam Islam, kita diajarkan untuk berprasangka baik (husnudzon) dan menjauhi prasangka buruk (su’udzon), sebagaimana firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Cobalah untuk melihat sisi positif dari setiap perbedaan dan belajar untuk beradaptasi. Sikap toleransi dan lapang dada akan sangat membantu dalam merajut hubungan yang harmonis.
Baca juga ini : Membangun Keluarga Sakinah dalam Perspektif Islam
3. Menghormati Batasan dan Ruang Privasi
Meski kini menjadi bagian dari keluarga besar, pasangan suami istri tetap memiliki hak atas ruang privasi dan keputusan mandiri, terutama dalam hal pengasuhan anak dan pengaturan rumah tangga. Penting untuk secara bijaksana menetapkan batasan yang sehat. Bukan berarti membatasi interaksi, namun lebih kepada menjaga agar setiap pihak tidak merasa terintervensi terlalu dalam. Pasangan suami istri perlu berdiskusi dan bersepakat tentang batasan ini agar bisa menyampaikaya dengan satu suara kepada besan jika diperlukan, tentu saja dengan cara yang paling santun.
4. Menyelesaikan Konflik dengan Hikmah Ala Islami
Konflik adalah bagian tak terpisahkan dari interaksi manusia. Namun, dalam Islam, kita diajarkan untuk menyikapi konflik dengan hikmah, kesabaran, dan semangat islah (perdamaian). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengajarkan kesabaran dan pemaafan. Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. Asy-Syura: 43)
Ketika terjadi perselisihan, hindari sikap emosional. Cobalah untuk mencari jalan tengah melalui musyawarah, melibatkan pihak ketiga yang netral jika diperlukan, seperti tokoh agama atau anggota keluarga yang lebih tua dan bijaksana. Fokus pada solusi, bukan pada siapa yang salah. Ingatlah bahwa tujuan akhirnya adalah menjaga silaturahmi dan keutuhan keluarga.
5. Peran Pasangan sebagai Jembatan Silaturahmi
Peran pasangan (suami atau istri) sangat krusial dalam menjaga hubungan baik dengan besan. Masing-masing harus menjadi “jembatan” yang menghubungkan pasangaya dengan keluarganya sendiri. Suami harus membela dan melindungi istrinya, sekaligus tetap berbakti kepada orang tuanya. Begitu juga istri, ia harus berbakti kepada suaminya dan bersikap baik kepada keluarga suaminya. Pasangan tidak boleh memihak secara membabi buta, melainkan berusaha memahami sudut pandang kedua belah pihak dan mencari solusi yang adil. Jangan pernah menjelek-jelekkan keluarga pasangan di hadapan pasangan atau sebaliknya.
Baca juga ini : Fikih Silaturahmi: Menjaga Ikatan Keluarga dalam Islam
6. Memperkuat Silaturahmi Melalui Kebersamaan
Silaturahmi adalah amalan yang sangat ditekankan dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Perkuat hubungan dengan besan melalui kebersamaan. Luangkan waktu untuk berkunjung, menghadiri acara keluarga, atau sekadar menelepon. Berikan hadiah kecil sesekali sebagai bentuk perhatian. Keterlibatan dalam momen-momen penting seperti hari raya, ulang tahun, atau ketika ada kesusahan, akan mempererat ikatan emosional dan menunjukkan bahwa kita peduli. Aktivitas bersama seperti makan malam, rekreasi, atau bahkan beribadah bersama, bisa menjadi perekat yang kuat.
Penutup
Membangun dan menjaga hubungan baik dengan besan adalah sebuah perjalanan yang memerlukan kesabaran, pengertian, dan keikhlasan. Dengan mengaplikasikan prinsip-prinsip Islami dalam setiap interaksi, mulai dari komunikasi yang santun, saling menghargai perbedaan, hingga menyelesaikan konflik dengan bijaksana, kita dapat menciptakan sebuah keluarga besar yang harmonis dan penuh berkah. Ingatlah, bahwa mempererat tali silaturahmi tidak hanya mendatangkan kebaikan di dunia, tetapi juga pahala yang besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga setiap upaya kita dalam merajut harmoni dengan besan senantiasa diridai-Nya.
