Share
2

Meneladani Rasulullah SAW dalam Merajut Persatuan Umat: Kiat Menyelesaikan Konflik Dakwah dan Menghindari Perpecahan

by Darul Asyraf · 25 September 2025

Dunia dakwah adalah ladang amal yang luas, namun tak jarang di sana juga muncul bibit-bibit konflik. Gesekan perbedaan pendapat, kesalahpahaman, hingga perselisihan antarindividu atau kelompok bisa saja terjadi. Dalam kondisi seperti ini, kita perlu belajar dari teladan terbaik, yaitu Rasulullah SAW, bagaimana beliau menghadapi dan menyelesaikan konflik dalam berdakwah demi menjaga persatuan umat.

Rasulullah SAW adalah sosok teladan sempurna dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam berinteraksi sosial dan berdakwah. Beliau hidup di tengah masyarakat yang majemuk, dengan berbagai suku, keyakinan, dan tradisi yang kadang saling bertentangan. Namun, dengan kepemimpinan dan kebijaksanaan beliau, umat Islam berhasil membangun peradaban yang kokoh di atas fondasi persatuan.

Pendekatan Hikmah dan Lemah Lembut dalam Dakwah

Salah satu prinsip utama Rasulullah SAW dalam dakwah dan penyelesaian konflik adalah menggunakan pendekatan hikmah (kebijaksanaan) dan mau’izhah hasanah (nasihat yang baik). Beliau tidak pernah memaksakan kehendak atau bersikap kasar, melainkan selalu mengedepankan dialog, pemahaman, dan kasih sayang. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)

Ayat ini menjadi panduan fundamental bagi para da’i, bahwa dalam menyampaikan kebenaran, cara yang lembut dan bijaksana akan lebih mengena di hati daripada hardikan atau paksaan. Rasulullah SAW mencontohkan ini dengan sempurna, bahkan kepada mereka yang memusuhinya, beliau tetap menunjukkan akhlak mulia.

Musyawarah: Jalan Tengah dalam Pengambilan Keputusan

Dalam banyak kesempatan, terutama yang menyangkut kepentingan umat, Rasulullah SAW selalu melibatkan para sahabatnya dalam musyawarah. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak otoriter, melainkan menghargai setiap pendapat dan mencari solusi terbaik secara kolektif. Contoh paling nyata adalah saat menyusun Piagam Madinah, sebuah konstitusi pertama di dunia yang mengatur kehidupan multietnis dan multiagama di Madinah. Beliau mengajak semua elemen masyarakat untuk duduk bersama, menyepakati hak dan kewajiban masing-masing, demi terciptanya kedamaian dan ketertiban.

Prinsip musyawarah ini juga diabadikan dalam Al-Qur’an:

“…dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran: 159)

Musyawarah adalah kunci untuk mencapai kesepakatan, meminimalisir potensi konflik, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap keputusan yang diambil. Ini adalah pelajaran berharga bagi setiap komunitas, organisasi, hingga rumah tangga.

Baca juga ini : Harmoni Keluarga Muslim: Jembatan Antar Generasi untuk Cegah Konflik

Mendahulukan Persaudaraan Islam (Ukhuwah Islamiyah)

Rasulullah SAW dengan gigih mengikis fanatisme kesukuan dan golongan yang kental di masa Jahiliyah. Beliau menggantinya dengan ikatan persaudaraan yang lebih mulia, yaitu ukhuwah Islamiyah. Kaum Muhajirin dan Anshar dipersatukan dalam ikatan iman, saling tolong-menolong dan berbagi. Ini bukan hanya jargon, tapi terbukti dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Allah SWT mengingatkan kita tentang pentingnya persaudaraan ini:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang bertengkar) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Hadis Rasulullah SAW juga memperkuat hal ini, “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dengan menempatkan persaudaraan di atas segala-galanya, perbedaan pendapat akan lebih mudah dicarikan jalan tengahnya, dan konflik tidak akan sampai merusak keutuhan umat.

Kiat Menjaga Persatuan Umat di Era Digital

Di zaman sekarang, tantangan dalam menjaga persatuan umat semakin kompleks, apalagi dengan adanya media sosial yang bisa mempercepat penyebaran informasi, baik benar maupun salah. Meneladani Rasulullah SAW, ada beberapa kiat yang bisa kita terapkan:

1. Kembali kepada Al-Qur’an dan Suah

Sumber utama persatuan kita adalah ajaran Islam yang murni. Ketika terjadi perselisihan, kembalilah pada Al-Qur’an dan Suah sebagai pedoman. Pahami dengan benar, jangan terburu-buru menghakimi atau mengikuti hawa nafsu.

2. Menghargai Perbedaan Pendapat (Ikhtilaf)

Dalam Islam, perbedaan pendapat dalam hal-hal furu’ (cabang) adalah keniscayaan dan rahmat. Selama perbedaan itu masih dalam koridor syariat dan bukan prinsip dasar, hargai dan sikapi dengan toleransi. Jangan sampai perbedaan kecil memecah belah persatuan yang lebih besar.

3. Membangun Komunikasi yang Baik dan Sehat

Seringkali konflik berawal dari miskomunikasi atau informasi yang tidak lengkap. Biasakan untuk bertabayyun (klarifikasi) sebelum menyebarkan atau mempercayai suatu kabar. Hindari ghibah (menggunjing) dan fitnah, baik di dunia nyata maupun maya.

Baca juga ini : Adab Berkomunikasi di Dunia Maya: Menjaga Keberkahan Digital dari Ghibah, Fitnah, dan Ujaran Kebencian

4. Fokus pada Persamaan, Bukan Perbedaan

Sebagai Muslim, kita memiliki banyak persamaan, mulai dari akidah, ibadah, hingga tujuan hidup. Fokuskan energi kita pada hal-hal yang menyatukan daripada memperbesar perbedaan yang ada. Bersinergi dalam kebaikan akan lebih bermanfaat daripada berdebat dalam khilafiyah.

5. Mendukung Lembaga Dakwah dan Pendidikan Islam

Lembaga-lembaga seperti LP3H Darul Asyraf berperan penting dalam menyebarkan pemahaman Islam yang moderat, inklusif, dan mengedepankan persatuan. Dengan mendukung lembaga semacam ini, kita turut berkontribusi dalam membangun fondasi umat yang kokoh dan tidak mudah terpecah belah.

Meneladani Rasulullah SAW dalam menyelesaikan konflik dakwah dan menjaga persatuan umat adalah sebuah keharusan bagi setiap Muslim. Beliau telah memberikan contoh nyata bahwa dengan hikmah, musyawarah, dan menempatkan ukhuwah di atas segalanya, kita bisa merajut kembali tali persaudaraan yang mungkin sempat kendur. Marilah kita terus berupaya menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah, demi terciptanya umat yang bersatu, kuat, dan dirahmati Allah SWT.

Sertifikasi halal, seperti yang diupayakan oleh DarulAsyraf.or.id melalui LP3H Darul Asyraf, juga merupakan salah satu bentuk ikhtiar menjaga kemaslahatan dan ketenangan umat dalam aspek konsumsi, yang secara tidak langsung berkontribusi pada terciptanya masyarakat yang harmonis dan terhindar dari keraguan.

You may also like